
Teknologi Juga Tumbuh
Telepon Genggam
Aku masih teringat pertama kalinya aku memiliki HP ketika diriku masih duduk di bangku SD. Tentu saja, ini hasil dari merengek kepada orang tuaku bahkan hingga menangis, dengan dalih bahwa teman-temanku yang lain kebanyakan sudah memiliki telepon genggamnya sendiri. Mungkin aku tidak mengerti bahwa sebuah HP pada zaman itu masih tergolong barang mewah. Tapi, namanya juga anak kecil, aku tahu keadaan ekonomi keluargaku hanya sejauh yang orang tuaku tunjukan.
HP atau Handphone, pada zaman itu masih memiliki fitur yang sangat terbatas. Mereka belum dipuji dengan panggilan “smart”, pilihan yang kami punya hanyalah berkomunikasi lewat SMS/pesan singkat atau melakukan panggilan dengan pulsa. Banyak kasus terjadi pada orang yang berpacaran, dimana kami meminjam HP orang tua kami untuk membalas pesan dari si Dia, lalu diakhiri dengan kalimat seperti, “jgn bls kesini, ini nomor mamaku”.
Kartu seluler yang aku miliki sistemnya jika sudah mengirim 10 sms, lalu akan mendapatkan gratis 50 sms untuk hari tersebut. Beberapa kartu seluler memiliki sistem 1 rupiah per karakter, dan itu lah pelopor dari pesan singkat yang memiliki kata-kata yang pelit dan alay seperti ini:
A: Hy, gy ap?
B: tdr, km?Karena keterbatasan teknologi pada masa itu, kami terpaksa memutar otak untuk memikirkan solusi guna menghadapi banyak hal. Mengingatnya saja, aku tidak percaya betapa normalnya menjadi alay dulu. Teknologi yang tumbuh bersama kami, sekaligus menjadi penonton bagaimana kami melewati fase alay dalam hidup. Tentu aku tidak akan menolak jika diperbolehkan untuk kembali ke masa itu, karena aku tahu semua orang akan menerima kebodohanku.
Ngomong-ngomong soal HP, aku masih ingat betapa membantunya alat itu untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Aku ingat sekali saat dulu masih zamannya menggunakan telepon umum (phonebooth) dan tempat spesifik yang kami sebut sebagai wartel atau warung telepon dimana kami bisa membayar sekian rupiah untuk mendapatkan sesi menggunakan telepon. Sekedar tambahan konteks, telepon rumah itu MUNGKIN relatif mahal untuk dimiliki, bukan barang yang dapat kamu jumpai di setiap rumah-rumah.
Raja brand dari telepon genggam dulu adalah Nokia, yang sekarang namanya tidak terdengar lagi. Aku ingat dulu zaman nya gonta-ganti casing transparan, dan gantungan HP segede gaban. Kebanyakan HP juga sudah ada game bawaan seperti space impact, dan snake. Sebelum Era game android merajalela, bounce adalah game favorit teman-temanku. Para millennial yang membaca pasti masih pada ingat nada dering dan program?
Ketik RING [spasi] KODE NADA
atau
Ketik REG [spasi] PRIMBONAku adalah salah satu korban program langganan space game apa gitu, yang menggunakan kata kunci REG tadi. Namanya anak kecil baru pegang HP ya, gampang banget ketipu sih dulu. Kalo nada dering real cuma beli nada yang udah di-compose orang, emang cocok buat yang gamau ngulik sendiri.
PING!!! Blackberry Era
Beberapa survei yang kulakukan ke beberapa temanku tentang masa mana yang paling menyenangkan bagi mereka, SMP atau SMA, aku mendapatkan jawaban yang campur aduk. Wajar saja, setiap orang memproses dunia dengan cara yang berbeda satu dengan yang lain. Namun menurutku, salah satu hal yang membuat masa SMP-ku terasa menyenangkan adalah karena saat itu aku merasakan Blackberry Era di dalam kenangannya.
Jangan mulai membahas sebuah HP blackberry, tanpa menyebutkan aplikasi terbaiknya yaitu BBM atau blackberry messenger. Bagiku, ini yang mengakhiri masa SMS-ku dan mulai beralih ke berkirim pesan menggunakan paket seperti paket gaul, paket full service, dan nama aneh lainnya. Aku bisa sebutkan hal-hal yang paling bisa dikenang dari BBM, seperti:
- Mengirim PING!!! untuk membuat si penerima mendapatkan notifikasi extra, ibarat seperti mengetok pintu ketika salam kita tidak dijawab.
- DP (display picture) dan PM (personal message), dua kunci utama remaja millennial alay. Kita dapat mengetahui mood anak-anak alay ini hanya dengan melihat salah satu dari kedua fitur ini.
- Fitur Show What I’m Listening To, canggihnya dulu BBM dapat terintegrasi dengan media yang sedang diputar, baik itu berupa musik atau video. Aku ingat dulu pernah melihat temanku sedang memutar video .3gp, dan itu muncul di bio miliknya. Lalu, sebagai teman yang baik, aku menegurnya dengan sedikit menertawai. Semoga masih belum banyak yang melihat.
Jujur aja, masuk ke zaman BBM ini bahagia banget rasanya. Ini adalah masa dimana kami mulai diberi peluang untuk kenalan dan ngobrol sama orang baru hanya bermodalkan punya PIN mereka. Yap, dulu tuh sempat ada zaman ketika kami ga nanya akun IG atau nomor HP, tapi “Minta PIN nya dong!”. Dulu hal tersebut menurutku adalah kemajuan teknologi yang sangat maju karena biasanya berkutat sama Mig33, Nimbuzz, MSN, dan MXIT (whaaat.. zaman banget ini, mungkin bisa jadi bahasan di lain waktu). Terus jangan lupakan istilah “TC” atau test contact, dimana kami menggunakan salah satu fitur andalan BBM yang disebut broadcast (ngirim satu pesan ke sekaligus banyak), jadi maksudnya test contact mungkin isi kontak tuh banyak, terus yang masih aktif biasanya akan ngechat balik broadcastnya. Hal tentang TC tadi bisa jadi modus aja sih biar pembuka chat, seringnya begitu. Kayaknya dulu banyak yang mulai pesan mitos-mitos berantai seperti, “Kirim pesan ini ke 10 kontakmu, atau arwah ini akan datang nanti malam”.
Hal yang paling berkesan ketika menggunakan BB saat berpacaran adalah fitur indikator LED. Jadi, ketika ada pesan masuk, BB memiliki lampu indikator yang berkedip untuk memberitahu kami bahwa kamu memiliki notifikasi. Hal kerennya dulu adalah bahwa warna lampu itu bisa dikustomisasi tergantung siapa pengirim pesannya. Aku ingat sekali mengganti LED nya menjadi warna kuning untuk pesan dari pacarku. Sehingga, perutku selalu dipenuhi kupu-kupu setiap HP-ku memancarkan cahaya kuning saat tergeletak. Namun, LED ini juga bisa jadi tanda kesedihan karena kalau LED berwarna oren, artinya HP kami lowbet.