Senin Itu Waktunya Upacara

Senin Itu Waktunya Upacara


Kalau ngomongin soal ritual rutin ya, kami sebagai anak sekolah dari dulu sampai sekarang sudah punya ritual rutin patriotik yang dinamakan UPACARA BENDERA. Ritual ini adalah program wajib jauh sebelum MBG ada. Untuk membuatnya terdengar lebih buruk, ritual ini sayangnya harus jatuh pada hari SENIN. Hari dimana menurut survei mendunia, adalah hari yang paling malas untuk dihadapi.

Di daerahku, itu sering hujan saat malam. Jadi ketika saatnya upacara besok, suasana paginya sangat sejuk dengan kabut tipis, dan untuk barisan yang tidak beruntung, itu artinya mereka akan menginjak rumput basah yang membuat sepatu langsung lembab sampai masuk ke kaus kaki. Ayo kita jangan bahas soal teriknya matahari, kita semua mengerti bagaimana rasanya dijemur di lapangan kalo udah mulai siang dikit.

Menariknya, aku perhatikan ada tiga perbedaan jelas dalam mengikuti upacara dari sudut pandang saat masih SD, SMP, dan SMA. Aku bisa menjabarkan beberapa hal yang aku rasakan selama tumbuh menjadi pelajar di Indonesia.

Zaman SD

Perlu aku beritahu, waktu zamanku masih SD, upacara saat itu aku rasa adalah upacara yang paling ketat aturannya. Mari mulai dengan kelengkapan seragam, seperti topi merah bertuliskan Tut Wuri Handayani, dasi merah yang masih menggunakan karet leher, dan kaus kaki putih di atas mata kaki. Wah dari dulu hal-hal seperti ini tuh mimpi buruk banget buat orang yang tidak ter-organisir seperti aku. Untungnya waktu SD sih masih sering diingatkan oleh orang rumah ya, jadi masih aman kalo soal kelengkapan.

Kalau ada anak-anak yang melanggar seperti banyak ngobrol, atau kelengkapan kurang, langsung deh dipisahkan barisannya di dekat tiang bendera atau disamping barisan guru. Malu banget dilihatin satu angkatan, rasanya kayak anak badung banget gitu.

Nah, semua orang tahu kalau yang namanya upacara itu udah pasti ada waktu untuk menyanyikan lagu kebangsaan kita semua, lagu “Indonesia Raya”. Ini saat-saat kami semua bernyanyi dengan lantang. Untuk anak-anak yang tidak hapal lagunya, atau tidak pede bernyanyi, biasanya hanya akan lip-sync dengan gaya. Ada beberapa sekolah yang saat mengeheningkan cipta, akan diiringi dengan tiupan pianika. Jadi, kalau nadanya meleset satu oktaf, nahan tawa deh anak-anak di semua barisan.

SMP Kurang Patuh

Wah, SMP tuh salah satu yang paling seru sih. Karena masa pubertas dan anak-anak mulai memberontak, kelengkapan upacara jadi prioritas nomor sekian. Di zaman ini, taat aturan membuat kami jadi tidak cool. Masuk ke masa SMP tuh artinya anak-anak sudah bisa melakukan role-play, alias masuk ke eskul untuk belajar menjadi sebuah organisasi. Nah, beberapa eskul yang paling terlihat saat upacara, adalah PASKIBRA, dan PMR.

Bagian paling seru ketika sudah masuk usia ini adalah karena kami yang baru puber, akan memanfaatkan acara upacara bendera ini untuk curi-curi pandang ke lawan jenis baik itu dari kelas yang sama, maupun dari kelas yang berbeda. Dalam hatiku berharap untuk suatu alasan, aku dapat berbaris dekat dengan cewek yang aku taksir di kelasku. Nahasnya, hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi dikarenakan tubuhku yang tinggi. Kami selalu tahu bahwa barisan akan disortir berdasarkan tinggi badan. Namun, itu tentu tidak menghentikanku untuk mencuri pandang dan mengagumi sosok si dia.

Itu baru gebetan satu kelas, beda lagi kalau kasusnya antar kelas. Mending kalau kelasnya tetanggaan, kalau beda kelasnya jauh, kami harus benar-benar fokus untuk hanya mendapatkan sedikit saja pemandangan dari incaran kami. Tapi jujur, perasaan berbunga-bunga, kupu-kupu di perut, hanya dari mengaggumi si dia dari jarak jauh, adalah kali pertama kami rasa mulai menginjak masa ini.

Oh di masa ini juga ketika laki-laki mengalami perubahan suara karena pubertas. Jadi suara pecah kadang terjadi ketika ada pemimpin upacara memberikan aba-aba kepada seluruh barisan. Ini tentu dapat memancing gelak tawa, semua anak menikmati masa bersekolahnya, masa dimana kami hanya memikirkan cara agar dapat mengerjakan PR sebelum kelas pertama dimulai tepat setelah upacara ini berakhir.

SMA Itu Gengsi Bos

Kalau ngomongin upacara pada saat masa SMA, sulit sekali rasanya digambarkan hanya dengan beberapa kata. Karena gengsi mulai naik ya, kami biasanya gamau ketahuan curi-curi pandang. Tapi tetap, sampai SMA pun harapan untuk bisa berbaris dekat dengan gebetan tidak pernah hilang. Bisa saling tatap-tatapan, dan ketawa-tawa kecil di dunia kami sendiri.

Wah, ini mah kami semua berlomba untuk pura-pura sakit ya, biar digotong/ditopang sama anak-anak PMR ke ruang UKS, dan dikasih teh hangat. Mungkin sudah ada anak-anak lain yang menggunakan strategi ini bahkan ketika masih di SMP, tapi aku baru menyadari soal itu pada saat di SMA.

Upacara bendara pada masa SMA biasanya terdiri dari beberapa hal seperti:

  • Paduan suara yang lebih keren, merdu, dan terlatih. Membuat kami ikut bersemangat untuk menyanyikan lagu kebangsaan bersama.
  • Pemberitahuan penerima penghargaan pada minggu itu. Salah satu hal bergengsi yang dikejar anak-anak ambisius yang dapat membanggakan sekolah.
  • Pemandangan orang-orang telat yang hanya dapat menyaksikan upacara bendera dari luar gerbang sekolah. Beberapa kali aku menjadi bagian dari mereka, gabut banget nunggu.
  • Pidato panjang dari pembina upacara, atau kepala sekolah yang rasanya tidak ada ujungnya.
  • Bisik-bisik barisan belakang membicarakan rencana sepulang sekolah.

Hal-hal seperti dipisahkan barisannya karena kebanyakan ngobrol, dan ketidaklengkapan atribut masih ada di SMA. Tapi, kalau kami belum punya gebetan, rasa malunya tidak akan terlalu terasa. Satu hal lagi, upacara bendera tuh benar-benar ladang gosip untuk barisan sekelas. Tanpa kami mencari tahu, akan ada obrolan ngomongin rumor terbaru tentang si ini dekat si itu, si itu, putus dengan si ini. Hal yang paling males dari upacara bendera setiap senin adalah karena aku harus memasukan bajuku dengan rapih.