
Satu Earphone Untuk Berdua
Aku ingat ketika jam pulang sekolah tiba, ada waktu dimana saat itu aku tidak ingin cepat-cepat untuk pulang. Karena pulang artinya aku tidak akan melihat wajahnya sampai esok hari tiba. Aku tidak mau itu, aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Remaja ini sedang dilanda demam cinta monyet.
Dunia Milik Berdua
Saat jam istirahat sekolah tiba, murid-murid bebas menggunakan waktunya untuk melakukan berbagai kegiatan untuk mengisi waktunya. Beberapa murid singgah di ruang eskulnya, beberapa lagi berolahraga seperti bermain bola, atau basket, murid yang lainnya jajan dan ngobrol di kantin. Membicarakan kegiatan seru yang terjadi kemarin, atau rencana yang akan dilakukan sepulang sekolah.
Kami? Kami duduk berdua di samping lapangan yang sedang digunakan anak-anak lain bermain bola. Berbagi earphone bercabang yang pendek, membuat jarak kami berkurang. Dikenalkan oleh lagu-lagu yang ngetren saat itu didengarkan oleh si dia. Mulai dari lagunya Justin Bieber “Baby”, boyband inggris One Direction “What Makes You Beautiful”, sampai hits dari Owl City “Fireflies”.
Karakterku yang pasif akan lagu populer, kontras dengannya yang sangat up-to-date dan antusias terhadap musik. Energinya ketika mengenalkan lagu-lagu itu membuatku hanya diam mendengarkan dan berpura-pura paham liriknya yang berbahasa inggris. Entah mulai kapan, aku akhirnya ikut hafal di luar kepala.
Headset murah yang kami gunakan, membuat kami belajar bahwa saling suka artinya saling berbagi. Ingat ketika salah satu dari kita menoleh tiba-tiba saat dipanggil teman? Headset yang lepas membuat telinga tersentak, disusul rasa canggung dan tawa kecil di lorong sekolah. Lalu kita diam, dan melanjutkan lagu berikutnya.
Pop Manis VS Tongkrongan Distorsi
Ketika tiba waktunya ngumpul dengan teman-teman tongkrongan, kontras sudah suasana lagu yang terbang di atmosfer kami. Bersama mereka, lagu kebangsaan berubah dari Indonesia Raya menjadi Dear God, Fall For You, dan Your Call. Memang, vibe yang terpancar dari tongkrongan anak laki-laki adalah anti patah hati, siapa butuh wanita, dan sok ganteng selamanya. Saat itu kepercayaan diri dan delusi hanya setipis kertas.
Tentu saja pop manis terhadap gebetan atau pacar dan tongkrongan sangat berbeda sekali. Di satu sisi pop manis yang merefleksikan dengan jujur rasa takut, proteksi berlebih, atau kecemburuan yang seringkali dirasakan anak seusia kami. Bagaimana momen sederhana duduk berdampingan tanpa banyak bicara sudah cukup memberikan rasa aman dan koneksi. Sedangkan bersama tongkrongan, kami saling teguh menghadapi penolakan, nilai jelek, dan kebingungan-kebingungan yang sering dialami remaja seperti kami.
Gema Yang Tertinggal
Memori yang dibuat dengan earphone yang dibagi ke dua telinga yang berbeda, dapat menghasilkan gema yang luas dan tahan lama. Membekas selama lagu ini masih muncul di dekade selanjutnya. Lagunya yang muncul di kafe atau radio mobil, langsung meproyeksikan visual bangku sekolah secara utuh.
Bersama para sahabat yang berbagi lagu, bernyanyi bersama saat ngumpul-ngumpul. Bersama si dia berbagi earphone lalu diam seribu bahasa sambil menatap dalam ke matanya. Bersama teman sekelas yang bernyanyi diingiringi gitar saat guru sedang tidak ada. Bersama orang dicinta yang hadir pada saat itu, tetapi tidak sekarang dan seterusnya.