
Moda Transportasi
Mari coba masuk ke topik yang lebih umum lagi dari sebelumnya, yaitu transportasi yang digunakan untuk pergi ke sekolah. Normalnya, kami semua memiliki jarak yang memerlukan kami untuk menggunakan semacam transportasi tertentu. Kecuali saat aku SMP ya, jarak rumahku ke sekolah hanya 400m.
Angkutan Umum
Mari bahas transportasi yang paling banyak digunakan oleh anak sekolah pada zaman ini. Di kota aku tinggal, ada yang disebut dengan angkutan kota (angkot). Aku tidak yakin berapa jumlah yang harus dibayar dulu. Aku hanya ingat, kalau dekat 2000, kalau jauh 5000. Bentuknya mobil normal yang pintu penumpangnya ada di samping. Di dalamnya bangku memanjang dua baris, di tengah untuk jalan. Jalan disini maksudku sambil menunduk ya. Referensinya kalau di jakarta itu seperti jaklingko, tapi bayarnya masih manual ke si abangnya. Kami bisa bayar pas sebelum keluar, atau pas sudah di luar dan lewat jendela kursi penumpang sebelah supir.
Dulu yang aku tahu, ini adalah transportasi yang paling banyak digunakan oleh teman-temanku. Sayangnya, sudut pandangku tidak terlalu bisa untuk menceritakan kisah-kisah seperti cinta monyet di dalam angkot ini. Itu karena ketika aku SMP, rumahku dekat dengan sekolah, jadi aku tidak naik angkot seperti teman-temanku yang lain. Ketika SMA, aku naik motor.
Hanya saja, yang tergambar di pikiranku sih naik angkot bareng teman-teman sekolah akan meningkatkan pertemanan dan waktu berkualitas ekstra. Bisa seperti tiba-tiba sepulang sekolah ingin main ke suatu tempat seperti singgah di mall, rumah salah satu teman, atau tempat makan. Jadi, mereka bisa sambil jalan-jalan sepulang sekolah.
Mungkin bagi yang sedang menyimpan rasa, punya gebetan, akan senang rasanya waktu ekstra yang diberikan dengan menaiki angkot bersama-sama. Sambil curi-curi pandang, tersenyum, lalu diledekin teman yang berada di satu angkot juga.
Motor
Bagi beberapa anak sekolah yang sudah bisa mengendarai motor, mereka akan membawa motor ke sekolah. Kalau anak SMP biasanya akan memarkirkan motornya di tempat lain seperti rumah teman yang dekat sekolah, atau penitipan motor. Saat SMP, siswa tidak diperkenankan membawa motor ke sekolah karena alasan yang sudah jelas. Kalau SMA biasanya sekolah menyediakan parkiran motor, aku salah satunya memarkir motor di sekolah.
Aku tidak membawa motor saat sudah memasuki SMA. Jadi, aku hanya bisa berbicara tentang membawa motor ketika masa SMA (legal). Membawa motor sendiri bagi kami membawa beberapa kelebihan tersendiri. Salah satunya kalau kami ingin main ke suatu tempat setelah pulang sekolah jadi gampang sekali. Kami hanya perlu menentukan mau ke tempat apa, lalu kami tinggal konvoi ke tempat itu. Bagi yang tidak membawa motor bisa dibonceng ke yang membawa motor.
Kalian tahu sendiri masa SMA adalah saat dimana perasaan petualangan kita memuncak, hanya saja kita belum punya banyak uang. Jadi, kami memutar otak untuk mencari tempat-tempat yang hemat, tapi bisa menjadi tempat untuk rekreasi bersama teman-teman yang lain. Dulu, aku dan teman-teman biasanya pergi ke curug (air terjun kecil) menggunakan motor. Di saat aku pergi ke suatu tempat yang lumayan jauh jaraknya menggunakan motor bersama teman-teman, yang aku suka adalah perjalanannya, dimana konvoi bersama teman-teman itu asyik ke tempat-tempat baru.
Intinya, motor merupakan pintu bagi kami untuk pergi ke tempat-tempat baru yang belum kami kunjungi bersama teman-teman setelah sepulah sekolah atau di akhir pekan. Pada zamanku motor-motor yang sering aku lihat adalah satria FU, vario 125, dan scoopy.
Diantar Orang Tua
Ada beberapa anak sekolah yang diantar jemput oleh orang tuanya. Mungkin rumah mereka jauh, atau memang orang tuanya itu overprotektif. Ini tidak salah, hanya mengurangi fleksibilitas anak itu untuk main sepulah sekolah.