Markas Tanpa Perlu Janjian

Markas Tanpa Perlu Janjian


Tongkrongan Sekolah

Kalau berbicara tentang tongkrongan, menurutku mereka bisa dikelompokan secara umum menjadi empat kategori utama berdasarkan pengalamanku. Pertama, kami punya tipikal tongkrongan anak nakal atau bad boys. Nakal di sini adalah hal yang sangat luas ya, bisa dimulai dengan sering bolos, skip jam kelas, sampai sering silaturahmi dengan sekolah lain secara tidak kekeluargaan. Mereka ini jagoan yang pasti ada di tiap sekolah. Kadang mencoreng nama baik sekolah, kadang menjaga nama baik sekolah (secara berlebihan). Di pengalamanku, asalkan kami tidak cari gara-gara, bisa berbaur dengan salah satu anggota mereka, biasanya mereka malah jadi pelindung kami dari sekolah lain. Masalahnya adalah ketika ada gesekan, yang berkaitan dengan cewek incaran.

Kategori kedua, kami punya anak tongkrongan spesialis di kfc/mcd atau mall. Ini biasanya tongkrongan cewek-cewek, kadang ada cowoknya, atau cowok yang cewek (paham?). Nah ini merupakan tongkrongan yang mengedepankan kenyamanan dalam mengobrol. Maka prioritas pertama mereka ketika ngumpul adalah tempatnya harus nyaman, kalau bisa ada AC, dan ada makanan cepat saji dikala perut mulai lapar. Nah, mereka ini adalah pemegang gelar tongkrongan paling up-to-date. Mau tahu rumor hangat yang ada di sekolah? Ikutan saja nongkrong dengan mereka. Mereka tahu siapa saja yang baru jadian, siapa yang baru putus, siapa yang baru dilabrak kakak kelas, dan siapa cowok-cowok ganteng di sekolah.

Di posisi ketiga, kami punya anak spesialis eskul geng. Nah ini tipikal anak-anak eskul banget. Mereka antara punya hobby di eskul ini, atau ikut-ikutan dan ternyata anggota eskulnya asyik-asyik. Tipe seperti mereka tuh sering ngumpul sebentar pas jam istirahat walaupun sebenarnya berbeda kelas. Kalau soal solid jangan ditanya, mereka ini hampir sama solidnya dengan tongkrongan bad boys. Walaupun, isi obrolan sebenarnya sama sih seperti anak sekolah pada umumnya. Tapi, mereka ini punya peluang-peluang untuk mengharumkan nama sekolah dengan mengikuti lomba-lomba dan kejuaraan.

Kategori terakhir, kami punya anak tongkrongan rumahan. Tipe ini biasanya paling hemat kalo nongkrong soalnya kalo makan, itu dikasih sama ibunya yang punya rumah. Kerjaanya ngerumpi ngomongin guru, atau cewek incaran di sekolah. Kalo mereka sudah merasa buruk karena banyak ngegosip, langsung setel saja televisi menonton bersama atau main ps. Ini bukan berarti mereka selalu ngerumpi di rumah ya, kadang ada pula waktu-waktu ketika mereka nongkrong di warung dekat sekolah untuk mencari suasana (atau nunggu gebetan baru lewat?). Ini dobel asyiknya kalau yang punya rumah orang tuanya jarang di rumah, atau memang asyik. Karena bisa sering acara nginep juga tiap weekend.

10 Menit Dari Sekolah

Adalah jarak yang cukup untuk menentukan bahwa sebuah rumah terkualifikasi sebagai markas untuk tongkrongan kami. Belum lagi kalau teman yang punya rumah, memiliki ps atau laptop yang sudah terinstall game bola seperti PES. Maka, waktu sepulang sekolah akan menjadi momen yang menyenangkan setiap hari. Punya markas atau basecamp, artinya kami tidak perlu pusing untuk mencari tempat untuk sekedar ngumpul dan mengeluarkan isi kepala kami.

Pengalamanku sendiri, aku berada pada tongkrongan kategori rumahan. Secara spesifik, rumahku lah yang dijadikan tempat nongkrong itu. Karena jarak yang tidak jauh dari sekolah, jadi tanpa janjian atau rencana pun, pasti kami akan ngumpul dulu di rumahku. Selain karena jarak rumahku yang dekat, keluargaku punya tanah di seberang yang didirikan bangunan beratap. Dengan tempat ngumpul minim pengawasan seperti itu, sudah pasti menjadi spot markas favorit kami untuk sekedar ngerumpi sambil gitaran atau ngegame.

Aku ingat karena saking nyamannya temanku dengan rumahku, ketika dia nyamper ke rumah (dulu belum terlalu zaman ngechat dulu sebelum datang ke rumah), dari luar dia berkata, “Fathuur, main yuk! Laper nih.”. Wah gaenak juga didengar tetangga. Aku tidak bisa mendiamkan mereka begitu saja. Aku bisa tahu bahwa ibuku sedikit gusar dengan hal itu, jadi entah sejak saat itu ibuku jadi lebih jarang menawarkan makanan.

Tidak ada yang bisa melawan orang-orang yang sedang gabut. Ada hari dimana kami membuat kerajinan tangan seperti pancingan dari lidi dan benang untuk memancing kolam ikan di rumahku. Hanya satu temanku yang berhasil menangkap ikan, tapi poinnya adalah kebersamaan yang kita bagi saat masa sekolah ketika kita tidak sedang mengerjakan ulangan, tidak sedang mengerjakan PR, atau tidak sedang mendengarkan guru di kelas. Ini berlaku untuk semua jenis tongkrongan, kelompok manapun yang kami pilih, merekalah yang mengisi memori kami sewaktu masih di bangku sekolah.