Gitar Kopong di Pojok Kelas

Gitar Kopong di Pojok Kelas


Tergeletak gitar nilon yang kopong itu di belakang kelas. Menemani sudut tembok yang berdebu dan jaring laba-laba yang luput dibersihkan oleh petugas piket kemarin. Gitar yang dibawa oleh salah satu anak yang ikut ekskul musik, atau memang kebetulan punya gitar menganggur di rumah. Dawainya tenang saat jam pelajaran dimulai, dan baru mulai mengeluarkan suaranya saat jam kosong tiba.

Gitar Nilon Bersama

Disandarkan di pojok ruangan, sesekali terjatuh karena orang terakhir yang memakainya tidak pas menyandarkannya. Aku ingat ada salah satu teman sekelasku yang anak band dan ikut ekskul musik. Dia rajin membawa gitar lengkap dengan tas kain tipis berwarna hitam yang bertuliskan “Yamaha”.

Kondisi fisiknya sendiri sebenarnya sudah cukup pasrah. Bodinya memiliki baret halus karena sering terbentur sudut meja, senar kawat bagian atas mulai menghitam akibat keringat jemari seisi kelas, dan senar nilon nomor satunya sering sekali kendur. Kami menyetemnya pun hanya mengandalkan feeling seadanya tanpa bantuan tuner. Namun, justru di situlah letak keajaibannya. Gitar ini menjelma menjadi hiburan paling mewah untuk kelas kami agar bisa bernyanyi bersama saat guru berhalangan hadir.

Gitar ini sifatnya bebas dipakai oleh siapa saja. Mau yang jarinya sudah lincah berpindah akord, yang masih terbata-bata menghafal kunci dasar, sampai yang belum pernah memegang gitar sama sekali dan sekadar ingin mencoba memetik senar.

Tidak jarang, gitar ini beralih fungsi menjadi katalis modus anak cowok untuk mengajari cewek incarannya. Kalau sudah masuk sesi modus begini, dunia serasa milik berdua. Suasana kelas mendadak sengaja dibuat hening, hanya menyisakan bisikan instruksi dari si cowok dan petikan nada sumbang yang ceroboh dari si cewek. Sampai beberapa saat kemudian, barulah meledak mantra sakti legendaris dari zaman SD: “CIYEEEE!!!” sahut seisi kelas meledek dua orang yang sedang PDKT.

Bernyanyi Bersama

Dulu saat di kelas, jika ada cowok yang pandai bermain gitar, kemungkinan besar dia akan langsung dikelilingi cewek-cewek kelas. Tujuannya cuma satu: bernyanyi bersama sambil diiringi petikan yang penuh percaya diri. Lagu-lagu populer dari Taylor Swift, Bruno Mars, Raisa, Adele, Justin Bieber, Maroon 5, dan musisi pop lainnya adalah repertoar wajib yang sering sekali diminta untuk dimainkan.

Beda cerita kalau tongkrongan cowok yang mengambil alih giliran genjrengan. Lagu-lagunya seketika bergeser ke Avenged Sevenfold, Secondhand Serenade, Slank, hingga Peterpan. Lagu apa pun yang pokoknya asyik untuk dinyanyikan bersama secara lantang, tanpa peduli nadanya fals atau vokalnya tidak sampai di nada tinggi. Meja kayu sekolah pun mendadak beralih fungsi menjadi drum dadakan—ditepuk bagian tengahnya dengan telapak tangan dan diketuk sudutnya memakai pulpen demi mengimbangi ketukan lagu.

Belum lagi kalau lagu yang dimainkan sudah sangat populer, mudah dinyanyikan, dan dihafal luar kepala. Koor seisi kelas dan irama tabuhan meja itu bisa terdengar riuh sampai ke kelas sebelah. Sebuah momen magis masa sekolah yang hanya bisa lahir karena ada sebuah gitar nilon yang diletakkan di pojok ruangan.